Lereng Gunung Ungaran terkenal subur, dan sejak lama dimanfaatkan untuk kebun sayur. Masalahnya, pola tanam yang mengubah seluruh permukaan tanah jadi lahan terbuka membuat air hujan lebih cepat mengalir ke bawah daripada meresap.
Kalau kita lihat data debit lima tahun terakhir, tiga mata air di lereng barat menunjukkan penurunan yang cukup konsisten. Mata Air Nyatnyono misalnya, turun dari 42 liter per detik pada 2021 menjadi 34 liter per detik pada 2025.
Alih fungsi lahan tidak selalu buruk. Yang jadi masalah adalah ketika perubahan terjadi tanpa mempertimbangkan area resapan. Kalau petani tetap menyisakan pohon pelindung dan membuat terasering, air masih bisa meresap dengan baik.